Elegance Magazine, October 1996
Saya Sendirian di negeri Orang
Takut Bali di Dufankan
"Taman yang indah selalu dibuat dengan jiwa dan rasa. Apa yang disebut Bhakti Yoga oleh orag Bali. Konsep kerja berlandaskan cinta-yang didorong keinginan untuk mempersembahkan kreasi terbaik bagi keagungan tertinggi yaitu kerja yang dekat dengan Tuhan sebagai pencipta alam semesta"
Siang itu Made tampak cekatan mengatur kembali penempatan artwork dan tanaman di halaman Sheraton Hotel, Cengkareng – Jakarta. Sesekali ia berhenti disalah satu sudut, mengamati dan tak lama kemudian menyampaikan instruksi pada stafnya. Tanpa menambah tanaman atau artwork baru – taman yang baru saja dibenahinya tampak jaug berbeda. “Made memang memiliki intuisi seni yang luar biasa”, salah satu mitra kerjanya komentar.
Made Wijaya dengan PT. Wijaya Tribwana International dikenal sebagai jaminan karya taman yang jelas berkelas. Perusahaan yang didirikannya sejak tahun 1977 di Bali ini memang bukan nama baru di kancah persaingan bisnis penatanan taman. Sampai saat ini tercatat lebih dari 350 proyek yang sudah mempercayakan penataan tamannya pada Made dan perusahaannya.
Keberhasilannya memberi sentuhan keindahan pada hotel – hotel bertarap International seperti Four Seasons Resort Jimbaran – Bali, Amandari Hotel – Ubud, Le Meridien Hotel – Jakarta, dan lebih dari 50 hotel mewah lainnya yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik, membuatnya begitu dikenal.
Ditambah kesuksesannya menata kediaman kalangan selebriti tak hanya di Indonesia juga di luar negeri, lengkaplah keberadaan Made sebagai piñata taman yang bertangan dingin. Dalam daftar panjang kliennya tercatat nama – nama tenar seperti David Bowie, Harmoko, Probosutedjo serta beberapa selebriti lainnya. Apa komentarnya tentang sukses yang diraih sekarang ?.
“Saya besar karena dukungan teman – teman. Saya bersyukur dapat bekerja dengan seniman – seniman sejati. Orang yang bekerja dengan bakat dan kesungguhan, nggak sok profesional dan luar biasa tekun“,Made berkomentar tentang stafnya yang telah bertahun – tahun bersama – sama membesarkan usaha yang dikelolanya.
Apa yang dilakukan Made ternyata tak lepas dari pengamatan dunia. Sebuah tropi cantik nan artistic dari The Peter Stettler Fundation for The Promotion of Beauty, Suisse – baru saja diterimanya sebagai wujud nyata pengakuan dunia.
Pengakuan atas kepawaian Made memindahkan warna tradisi dalam seni rancang taman, serta pengabdiannya dalam mencipta warna yang khas, natural, romantis, bernuansa etnik Indonesia, bahkan Asia.
Dalam diri Made yang terakhir sebagai Michael R. White mengalir darah seni yang kental. Ayah yang pelukis serta ibu yang keramik memang telah memberi atmosfer “beda” dalam perkembangan jiwanya.
Ia sangat mencintai seni khususnya seni arsitektur. Hal itu pula yang membawanya Bali di tahun 1973, kala menginjak 20 tahun.
Four Seasons Resort, Jimbaran, Bali |
Tak dinyana Bali yang digambarkan sebagai Surga ketika itu, membuatnya benar – benar jatuh cinta. Tinggal disalah satu keluarga Brahmana Hindu didaerah Kepaon. Michael muda cepat sekali akrab dengan alam dan masyarakat Bali. Akhirnya sejak 1975, ia punya nama baru – Ida Bagus Made Wijaya, yang disingkat hanya dengan Made Wijaya. “Orang Bali itu maha menerima. Dengan ketulusan itu pula saya hidup dan menjadi bagian dari mereka”. Kenangnya lagi.
“Untuk menciptakan karya yang indah saya butuh orang yang mengerti dan menghormati desain. Saya sedih kalau dipaksa mencipta dengan banyak kompromi dalam menjemahkan seni itu sendiri. Banyak yang nggak mengerti bahwa perombakan sekecil apapun dalam konsep artistik secara menyeluruh”.
“Bagaimana kami bisa kerja ditengah orang yang nggak menghargai profesionalme . Pekerjaan seni itu tak bisa diukur dengan batasan dan ukuran – ukuran kepraktisan, baik waktu, dana dan sebagainya. Jangan sampai hall yang sifatnya sekunder malah menduduki fungsi primer. Kalau sampai persoalan teknis mempersempit ruang gerak kita, itu sudah kacau sekali”.
“Disamping itu iklim memegang peran penting. Karya saya di Singapura banyak yang bagus, kenapa?. Salah satunya yah karena iklim itu tadi. Mereka sudah jenuh dengan gaya mewah dan mulai beralih pada gaya taman semi resort. Disana saya lebih bebas untuk berkreasi."
Beda dengan orang Jakarta. Mereka masih menyukai hal – hal mewah. Ukuran bagusnya yah kemegahan, kemewahan. Kalau mungkin buat taman semegah istana. Makanya karya saya yang penuh romansa, puisi, agung, dan bersahaja – masih susah mendapat tempat”, katanya sembari tertawa.
Rumah Bapak Harmoko, Jakarta |
Saba Bay Resort, Gianyar, Bali |
Made mengibaratkan karyanya dalam perumpamaan sederhana. “Makan dibawah bintang terasa lain disbanding diruang megah. Suasana itu tak bisa digantikan. Tinggal bagaimana kita bisa menikmati situasi yang hidup didalamnya. Itulah yang ingin saya sampaikan”, Made yang selama ngobrol terlihat sangat humoris tiba-tiba tampak sangat humoris tiba-tiba tampak sangat serius.
Seserius ketika ia mulai bicara tentang berbagai keprihatinan yang menyergapnya. Dari tamanisasi hingga pengurugan pantai Mertasari. Made termenung sembari merangkai penggal kenangan yang pernah begitu memikatnya di tanah Bali.
“ Bali itu hebat karena selamat dari kolonisasi. Sayangnya tak selamat dari tamanisasi Lima tahun lalu tiba – tiba semua pohon ditebangi untuk dibikin taman, saya terhenyak.
Apa yang hendak dilakukan orang pada tanah yang indah ini? Eh, tak lama kemudian muncul banyak pohon dan patung dari beton, dimana – mana. Murahan. Bali jangan dibikin seperti Dufan dong”, ucapnya dengan nada tinggi.
Tak lama kemudian Made melanjutkan ceritanya. Kisah romantis di kawasan pantai Mertasari (pantai yang terletak dikawasan Sanur.red). Menurutnya, dulu setiap bulan purnama pantai itu selalu ramai pengunjung. Baik yang menikmati keindahan alam atau untuk mencari pasangan. Konon, ditengah kesahajaan alam yang akrab – pantai romantis ini telah mendekatkan banyak hati untuk berikrar membangun rumah tangga.
“Sekarang semua kawasan pantai yang bagus ditutup. Masyarakat Bali dibuang ke pantai yang pasir dan ombaknya jelek.
Kalau mau masuk kawasan yang lebih memadai harus pakai ijin, bayar. Menyedihkan sekali. Saya takut suatu ketika masyarakat Bali tak lagi punya tempat untuk menghayati keindahan seperti yang selalu akrab dalam hidupnya”, Made pelan.
Sebagai kolumnis handal yang mengkhususkan diri pada seni dan budaya di Bali Post Minggu sejak 1979 – 1980 – Made telah mencatat begitu banyak peristiwa. Ia memiliki dokumentasi rapi yang akhirnya dibukukan dalam “Stranger in paradise”.
Buku yang menggambarkan Bali di tahun 70-an. Ia mencatat dengan cermat setiap petualangan, perubahan, kekaguman serta keterkejutannya terhadap berbagai peristiwa yang terjadi disekelilingnya. “Itu bagian yang penting dan menarik dalam hidup saya”, akunya jujur.
Made juga dikenal sebagai penulis essay dan artikel yang aktif di berbagai Koran dan majalah. Dari kebiasaan menulis ini pula beberapa buku telah lahir dari tangannya. Balinese Architecture (1986), Statues of Bali (1986) dan Bali – Short Stay Guide (1991), adalah buah pemikiran yang memberi kontribusi penting dalam keterbatasan pustaka yang layak menjadi acuan.
Meski mengaku “orang asing”ditengah dinamika masyarakat yang dicintainya, nyatanya sepak terjang Made sering menimbul kekaguman. Ide penciptaan, penanganan serta spontanitasnya dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang tak terpediksi dilapangan diakui sebagai hal yang luar biasa dalam diri Made.
“Ia tahu benar apa yang harus dilakukan dalam kondisi yang paling kritis sekalipun, dengan ide yang seakan tak ada habisnya. Rasanya tak cukup lima tahun atau bahkan sepuluh tahun untuk memperlajari kecermatannya”, seorang stafnya menjawab pasti. Apakah Made tahu betapa ia telah menjadi inspirasi bagi orang – orang dilingkaran pekerjaannya?
Menjelang akhir perbincangan Made kembali mengenang keindahan yang pernah dialaminya di Tanah Bali. “Dulu segala hal tampak cantik – sorga barangkali kata yang tepat. Sekarang banyak hal tak lagi indah kecuali Pura. Seni arsitektur yang begitu saya kagum tampak kehilangan gairah, pucat tak berdarah”.
Seorang Made yang terus berkarya adalah juga gambaran bahwa perubahan adalah hal yang tak terhindarkan. Masalahnya ke arah mana ritme perubahan itu diarahkan, sebelum kita kehilangan segala yang berarti itu untuk selama – lamanya.
Villa Bebek, Sanur |
|